Ali Muttaqin

Saya adalah Guru MIS KP Puruk Cahu Kalimantan Tengah Sejak Tahun 2012 hingga sekarang. MIS KP adalah sekolah paling muda di Kabupaten Murung Raya yang berdiri t...

Selengkapnya

Pertemuan Pertamaku Dengan Sekretaris Yayasan

Aku adalah salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Banjarmasin Kalimantan Selatan tepatnya Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan tahun 2008 dan berhasil menyelesaikan study selama kurang lebih empat tahun lamanya dan lulus tahun 2012.

Setelah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Tanah Laut dan sebelum wisuda tahun 2012, aku mendapat telpon dari nomor yang tidak aku kenal ketika itu.

Kring...kring...kring... suara HP ku berbunyi, nomor yang masuk tidak ada namanya. Setelah aku angkat, ternyata terdengar suara seorang perempuan yang mengucapkan salam.

“Assalamualaikum,” ucapan salam itu langsung aku jawab,

“Waalaikum salam,” sahutku, mohon maaf ini siapa ya? lanjutku.

Perempuan yang menelpon tersebut menjawab, “saya Ibu Nina Narly.”

Nama tersebut rasanya pernah aku kenal, aku kembali melanjutkan pertanyaan.

Ibu Nina Narly yang mana ya? Tanyaku.

Nina Narly Puruk Cahu sahut beliau, saya sekretaris Yayasan Pendidikan Islam Karya Pembangunan Puruk Cahu.

“Oooh iya, saya baru sadar bahwa beliau adalah salah satu guru yang pernah mengajari aku ilmu ketika aku duduk di bangku MTs dulu, mohon maaf” ada yang bisa saya bantu bu? sahutku kembali.

Iya, kamu bisa ga ke tempat ibu di jalan Pembangunan Banjarmasin dan tolong bawa juga Noranisa, pinta beliau, kalau tidak sempat besok hari juga tidak apa-apa.

In Syaa Allah bisa bu, sahutku. Noranisa adalah salah satu temanku satu sekolah di Puruk Cahu dan sama-sama melanjutkan ke IAIN Antasari Banjarmasin dan sama-sama di Fakultas Tarbiyah, namun beda jurusan. Saya masuk jurusan PAI, ia masuk jurusan Tadris Bahasa Inggris.

Malam harinya aku langsung menghubungi temanku Noranisa dan memberitahukan bahwa tadi aku barusan mendapat telpon dari Ibu Nina Narly yang meminta kami berdua menemui beliau di rumahnya.

“Noranisa langsung bertanya ada apa ya mang?” (sebutan dalam bahasa dayak bakumpai yang artinya paman).

“Aku juga tidak tahu dalam rangka apa beliau memanggil kita sa (panggilan sehari-harinya), sahutku. Pokoknya kita temui saja beliau dulu besok hari,” lanjutku.

keesokan harinya setelah shalat subuh aku langsung mandi dan merapikan tempat tidurku, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagiku. Maklum aku tinggal seorang diri di rumah salah satu keluarga ku.

Sekitar pukul 07.30 Wita, aku langsung menuju kos-kosan Nisa yang merupakan keponakan sekaligus teman seusiaku. Nisa tinggal di kos tidak jauh dari kampus tempat kami sama-sama menimba ilmu. Sampai dimuka kosnya saya langsung mengetok pintu sembari mengucapkan salam.

“Tok..tok...tok..., assalamualaikum,”

“Waalaikum salam, sahut Nisa dari dalam rumah tempatnya tinggal.”

“Ayoo... kita berangkat kataku kepada Nisa.”

“Ayoo... sahut Nisa, saya sudah siap dari tadi saja, katanya.”

Kami berangkat menggunakan kendaraan roda dua miliku, kami menyusuri jalan di Kota Banjarmasin secara pelan-pelan sambil sesekali berhenti di depan warga yang kami lewati sembari bertanya alamat tempat Ibu Nina yang kami tuju. Maklum kami berdua belum pernah melalui alamat rumah Ibu Nina di jalan Pembangunan.

Sambil jalan kami sesekali ngobrol dan masih penasaran kenapa kami berdua di minta ke rumah Ibu Nina.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit akhirnya kami menemukan alamat rumah Ibu Nina yang diberikannya. Sesampai di muka rumah, aku langsung mengetuk pintu rumah beliau.

“Tok...tok...tok..., assalamualaikum, assalamualaiku, beberapa kali aku mengucapkan salam dan mengetok pintu.” Tidak lama kemudian, ada suara sahutan salam dari dalam rumah yang tidak lain adalah Ibu Nina.

“Waalaikum salam, sahut ibu Nina, silahkan masuk kin (nama panggilanku), iya bu terima kasih. Mana Nisa? lanjut Bu Nina bertanya kepada ku, ada bu ini. Masuk Sa kata Bu Nina, iya bu sahut Nisa.”

Aku, Nisa dan Bu Nina langsung duduk di ruang tamu rumah beliau, Bu Nina menanyakan kabar aku dan nisa.

“Gimana kabarnya Kin?”

“Alhamdulillah baik bu, sahutku”

“Nisa gimana kabarnya? Lanjut bu Nina”

“Alhamdulillah baik juga bu, sahut Nisa”

“Alhamdulillah kalau begitu, dan senang bertemu kalian berdua setelah lama tidak bertemu, sahut beliau kembali”

Maklum aku dan Nisa sering bertemu dengan Nisa ketika masih duduk di bangku kelas VII MTs di mana Ibu Nina ketika itu masih menjadi guru, itupun hanya selam satu tahun, karena beliau pindah tugas ke Kantor Kemenag Murung Raya yang tidak jauh dari madrasahku ketika itu.

Tidak berselang lama, bu Nina langsung mengeluarkan sebuah surat yang dibalut dengan amplop berwarna coklat.

“Ini saya membawa titipan surat dari ketua yayasan Bapak H. Marzuki Rahman kata beliau, kalian berdua di minta untuk magang atau belajar selama kurang lebih dua minggu di salah satu sekolah di Banjarmasin.”

Dalam hatiku aku bertanya, magang dalam rangka apa atau magang untuk apa?

Kemudian Ibu Nina melanjutkan pembicaraannya, “Ini adalah surat izin magang di SDIT Ukhuwah Banjarmasin dan kalian berdua di minta untuk mengantarkan surat ini ke pengelola SDIT Ukhuwah ini,” kata beliau.

Pertanyaan yang terbersit dalam hatiku ternyata sama dengan yang di tanyakan temanku Nisa kepada bu Nina. “Manang dalam rangka apa ini bu? Tanya Nisa”

Begini jawab bu Nina, kalian berdua diminta oleh pengurus yayasan untuk mengajar menjadi guru di sekolah yang akan didirikan oleh yayasan tahun ini, dan penunjukan kalian berdua sudah dirapatkan oleh pengurus yayasan.

Ternyata Yayasan Pendidikan Islam Karya Pembangunan berencana mendirikan madrasah ibtidaiyah dengan menggunakan gedung bekas MTs milik yayasan yang sudah dinegerikan dan pinda ke bangunan yang baru milik pemerintah. Jadi bangunan yang ditinggalkan itu kosong dan sayang kalau tidak digunakan, maka yayasan melakukan musyawarah untuk mendirikan madrasah ibtidaiyah. Aku dan Nisa diminta mengelola madrasah yang baru berdiri nantinya sehingga kami dimagangkan dulu selama kurang lebih dua minggu di SDIT Ukhuwah untuk belajar pengelolaan sekolah secara keseluruhan.

“Ini juga ada biaya seadanya untuk konsumsi kalian selama magang nanti, dan mudah-mudahan cukup,” kata bu Nina.

Setelah berbincang kurang lebih satu jam, dan aku mendapat penjelasan tentang maksud dan tujuan aku dan Nisa dipanggil, aku dan Nisa mohon pamit dengan bu Nina.

“Kalau sudah aku dan Nisa mohon pamit bu ya,” pintaku dengan bu Nina. Oh iya, silahkan Kin, sahut bu Nina. Semoga kalian berdua dapat ilmu yang banyak dan dapat pengalaman yang cukup untuk mengelola madrasah yang akan dimulai tahun ini, harap bu Nina.

“Amiiiin, jawab ku dengan Nisa.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali