Ali Muttaqin

Saya adalah Guru MIS KP Puruk Cahu Kalimantan Tengah Sejak Tahun 2012 hingga sekarang. MIS KP adalah sekolah paling muda di Kabupaten Murung Raya yang berdiri t...

Selengkapnya
Menyemai Harapan Pada Buah Hati

Menyemai Harapan Pada Buah Hati

Harapan, ya harapan, semua orang pasti memilikinya. Harapan adalah suatu hal yang membuat manusia bisa menatap masa depan lebih baik. Dengan adanya harapan maka semangat untuk meraih sesuatu yang diharapkan itu akan terus tumbuh. Begitu pula harapan orang tua pada anaknya. Pasti tiap orangtua memilikinya, mungkin sangat tinggi dan beragam. Tiap orang tua memiliki harapan agar kelak putra putrinya lebih baik dari dirinya.

Menyemai harapan pada anak agar ia sesuai harapan orang tua tak perlu menunggu mereka dewasa. Semailah harapan pada anak sejak dini, sejak ia belum mengerti. Ketika anak lahir ia bisa diibaratkan sebuah biji. Biji itu akan bertunas dan tumbuh dengan baik jika yang merawatnya memberikan perawatan terbaik. Begitu pula anak. Orang tuanyalah yang akan membuatnya tumbuh dan berkembang dengan pribadi yang istimewa.

“Apa cita-citamu nak jika engkau besar nanti?” Suatu saat bapak/ibu bisa bertanya seperti itu pada buah hati masing-masing. Dengarlah jawabnya. Jika jawabannya standar pada umumnya, bapak/ibu bisa membuatnya istimewa. “Ayah, aku ingin jadi pilot,” ujar seorang anak laki-laki. “Bagus sayang. Pilot itu memang hebat. Banyak bermanfaat untuk umat. Bisa mengantar kaum muslimin pergi berhaji ke tanah suci. Tapi, ada yang lebih hebat lagi,” tutur ayahnya memuji sembari membuatnya penasaran. “Apa ayah?” sahut putranya. “Pemilik maskapai penerbangan sayang. Kalau kamu punya maskapai penerbangan pasti akan lebih bermanfaat lagi.” Jawab ayahnya sembari menguatkan jawabannya dengan cerita yang meyakinkan.

Buatlah putra putri bapak/ibu memiliki harapan istimewa pada masa depannya. Harapan menjadi pemilik sebuah perusahaan bukan pegawainya. Harapan menjadi pemilik rumah sakit bukan hanya dokternya. Harapan menjadi seorang hafidz Al Qur’an yang juga seorang ulama’. Harapan tak hanya menjadi tentara, tapi komandannya. Harapan untuk menjadi anak sholeh-sholehah yang mampu memasukkan bapak/ibu ke surga-Nya.

Lihatlah bagaimana orang tua Sultan Murad II atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel menanamkan harapan itu sejak dini. Setelah mendirikan shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau wahai Muhammad, akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana nama Rasulullah ﷺ yang kami cintai. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?”. “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia,” jawab sang ibu penuh hikmah.

Ibunda Sultan Muhammad al-Fatih mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari. Ia tidak membiarkan anaknya terbiasa tidur di waktu pagi. Ia lakukan apapun yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar. Agama sebagai pondasi dan kasih sayang kepada manusia sebagai akhlakul karimah bukan spirit penjajahan dan penindasan.

Semoga orang tua siswa MIS Karya Pembangunan Puruk Cahu mampu untuk menyemai harapan besar dan harapan istimewa bagi buah hatinya sejak dini, dan semoga generasi kita mampu menjadi generasi terbaik pada masanya nanti.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali